PSIKOLOGI KOGNITIF

BAB I
PENGANTAR PSIKOLOGI KOGNITIF
Strategi kognitif secara umum dapat dimaknai sebagai suatu prosedur mental yang digunakan untuk mencapai tujuan kognitif mulai dari yang paling naluriah seperti penginderaan sampai pada jenjang kognitif yang lebih tinggi yaitu pengamatan, menyimpan, dan mengingat, imajinasi, dan berpikir. Psikologi kognitf adalah semua proses yang berasal dari masukan sensori yang ditransformasikan, disederhanakan, dijabarkan, disimpan, diekluarkan dam digunakan. Psikologi kognitif merupan landasan konsepsional untuk mengembangkan strategi kogntif terutama dalam proses pembelajaran. Psikologi kognitif merupakan sebuah reaksi ketidakpuasan para pakar terhadap psikologi behavioristik yang terlalu menekankan aspek eksternal perilaku dan kurang memperhatikan aspek internal yang berupa pikiran. Psikologi kognitif sangat berpengaruh dalam berbagai bidang termasuk pendidikan hingga akhir abada dua puluh. Sejumlah tokoh yang memberikan kontribusi bagi perkembangan psikologi kognitif ialah sebagai berikut : Gustav Fechner (teori penginderaan dan kepekaan), Wilhelm Wundt (memahami pikiran manusia dengan mengidentifikasi unsure pembentuk kesadaran manusia), Edward Titchtener (strukturalisme yang menggambarkan struktur pikiran manusia), Herman Ebinghaus (materi yang tidak dapat dipahami maknanya sulit untuk dibandingkan), William James (hubungan antara perubahan fisiologis dengan kondisi emosional), Wolfgang Kohler (tokoh psikologi gestalt), Edward Tolman (keterkaitan antara situasi dan peristiwa sebelumnya dalam pembentukan perilaku), Piaget (teori kognitif sejak lahir sampai dewasa), David Mc Cleland (teori kebutuhan sebagai sumber perilaku khusus kognitif), dan Noam Chomsky (teori bahasa dalam prose kognitif). 8 tema implikasi psikologi kognitif: Pembelajaran sebagai satu proses konstruktif, kerangka kerja mental menata, lathian praktis, pengembangan kesadaran diri, motivasi dan keyakinan, interaksi social, pengetahuan, pendekatan kognitif.




BAB II
POLA DASAR PEMROSESAN INFORMASI
Fokus utama psikologi kognitif adalah mengkaji proses mental perilaku individu dalam memeroleh informasi dan pengathuan yang bersumber dari lingkungan. Pendekatan teori dan model pemrosesan informasi dengan menggunakan metafora computer sebagai alat yang berfungsi menerima, mengolah, menyimpan dan menghasilkan informasi. Model dasar pemrosesan informasi memiliki tujuh unsure utama yang saling terkait secara dinamis dengan proses interaksi dengan lingkungan. (1) lingkungan yang memberikan rangsangan, (2) alat indera yang berfungsi untuk menerima rangsangan, (3) memori sensori untuk penyimpanan rangsangan, (4) persepsi atau pemberian makna terhadap rangsangan yang diterima, (5) memori jangka pendek untuk menyimpan persepsi, (6) penyandian/ penyimpanan persepsi, dan (7) pengungkapan/ mengingat persepsi pada saat diperlukan. Sistem pemilikan informasi/ pengetahuan dalam memori diawali dengan tahapan penerimaan dan pengenalan pla dilanjutkan dengan proses pemberian maknda, untuk kemudian proses penyimpanan. Pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya akan mempengaruhi proses persepsi, pengenalan pola, dan pemberian makna, hal ini berarti bahwa proses persepsi banyak ditentukan oleh pengetahuan sebelumnya. Disamping itu persepsi dipengaruhi pula oleh konteks informasi yang diperoleh. Memori baik memori jangka pendek maupun memori jangka panjang mempunyai peran yang besar dalam keseluruhan proses kognitif. Perhatian sebagai bentuk pemusatan aktifitas mental terhadap sesuatu objek rangsangan mempengaruhi keefektifan pembentukan persepsi pada pusat kesadaran. Kualitas perhatian dipengaruhi oleh faktor kualitas rangsangan dan faktor pribadi individu. Proses pembelajaran dapat menggunakan konsep model pemrosesan informasi sebagai kerangka landasan dalam mengembangkan model pembelajaran yang efektif.




BAB III
MEMORI JANGKA PANJANG
Memori jangka panjang merupakan penyimpanan yang bersifat relatif permanen dalam kurun waktu panjang berupa informasi dan pengetahuan secara akumulatif dari masa ke masa. Informasi dan penegathuan yang tersimpan di memori jangka panjang dikelompokkan dalam tiga kategori yaitu: (1) pengetahuan deklaratif yang terdiri atas memori semantic dan memori episodik, (2) pengetahuan procedural yaitu pengetahuan yang informasi mengenai prosedur suatu aktivitas, dan (3) pengetahuan kondisional yaitu pengetahuan dalam menggunakan pengetahuan deklaratif dan procedural dengan tepat. Dalam kategori pengetahuan deklaratif terdiri dari dua yaitu memori semantic yang merujuk pada memori konsep dan prinsip secara umum dan keterkaitan satu dengan yang lainnya. Memori episodik merujuk pada penyimpanan dan pengungkapan pengalaman-pengalaman yang bersifat pribadi, misalnya data biografi, pengalaman masa lalu yang mengesankan. Dalam memori jangka panjang ada lima blok bangunan untuk menyimpan informasi/ pengetahuan yaitu konsep (struktur mental yang memberikan representasi kategori yang bermakna), proposisi (satuan makna terkecil yang menampilkan satu pernyataan secara tegas), schemata/skema (kerangka mental yang kita gunakan untuk menata pengetahuan yang tersimpan dalam memori jangka panjang), produksi (kondisi dimana suatu tindakan harus dilakukan dengan sebuah persyaratan) dan script/naskah (kerangka kerja mental yang digunakan untuk pengetahuan procedural). Ada 5 implikasi bagi pembelajaran, (1) pengetahuan awal siswa, (2) siswa perlu dibantu mengaktifkan pengetahuan terkini, (3) siswa perlu dibantu menata informasi baru menjadi sesuatu yang bermakna, (4) siswa perlu dibantu dalam memprosedurkan pengetahuan mereka dan mengaitkan kepada pengetahuan yang mensyaratkan, (5) memberikan kesempatan kepada para siswa untuk menggunakan sandi verbal dan imajinal.  



BAB IV
PROSES PENYANDIAN
Penyandian (encoding) merupakan sebuah proses mengatur penyimpanan persepsi dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang. Penyandian harus dibuat sedemikian rupa agar sebuah persepsi itu tersimpan secar jelas, sistematis dan teratur sehingga memudahkan dalam pengungkapan nkembali manakala diperlukan. Untuk sebuah informasi yang sederhana, terdapat sejumlah strategi penyandian, yaitu : rehearsal (latihan), mediation (mediasi/penyela), imagery (bayangan/gambaran), mnemonic (menghafal). Untuk strategi mnemonic (menghafal) dapat dilaksanakan dengan beberapa metode sebagai berikut: metode pasak, metode lokasi, metode menghubungkan, metode cerita, metode huruf pertama dan metode kata kunci.  Untuk pengetahuan yang kompleks, penyandian dapat dilakukan dengan metode: pengaktifan pengetahuan yang telah dimiliki, bertanya terbimbing, dan tingkat pemrosesan. Metakognisi merupakan pengetahuan seseorang terhadap proses berpikir mereka sendiri. 2 dimensi metakognisi antara lain pengetahuan kognisi dan regulasi kognisi. Ada lima hal yang harus dikuasai untuk dapat melaksanakan strategi metakognisi dengan sebaik-baiknya yaitu: (a) memiliki strategi, (b) pengetahuan metakognitif mengenai mengapa, bilamana, dan dimana, (c) keluasan pengetahuan, (d) pengendalian tindakan dalam bentuk memotivasi diri, (e) otomatisasi dari keempat hal yang disebut terdahulu. Implikasi proses penyandian antara lain berkenaan dengan: (a) pemasangan penyandian dengan bahan ajar, (b) pemberian dorongan kepada siswa, (c) penggunaan strategi yang dapat membantu menjabarkan atau elaborasi, (d) kesadaran akan metakogntif masing-masing siswa, (e) membuat prioritas dalam menggunakan strategi, (f) membantu siswa dalam mengembangkan strategi, (g) penilaian terhadapt strategi yang telah dan akan digunakan untuk diterapkannya dalam pemelajaran dikelas.


BAB V
PROSES PENGUNGKAPAN
Dalam konteks strategi kognitif, pengungkapan merupakan satu strategi untuk menampilkan kembali informasi/pengetahuan yang telah tersimpan di dalam memori jangka panjang. Melalui suatu isyarat/tuntutan tertentu (misalnya tugas, pekerjaan rumah, tes atau ujian) siswa dirangsang untuk mampu mengungkapkan kembali materi-materi ajar yang telah tersimpan. Mengingat dan lupa merupakan bagian dari proses kognitif yang saling berkaitan dengan proses dan hasil perilaku. Mengingat merupakan proses mengeluarkan kembali informasi-informasi yang telah tersimpan dalam memori, sedangkan lupa merupakan suatu keadaan kehilangan kemampuan untuk mengeluarkan kembali informasi yang telah tersimpan di dalam memori. Lupa dapat disebabkan oleh empat hal: (1) keusangan, yaitu hilangnya informasi dari tempat penyimpanan ingatan karena tidak pernah dipakai, (2) gangguan informasi baru terhadap informasi lama, atau informasi lama terhadap informasi baru, (3) gangguan dalam otak,  dan (4) kesengajaan untuk dilupakan. Pengungkapan atau mengingat dalam proses pembelajaran dapat dilakukan dengan strategi, (a) pengkhususan penyandian, (b) pemahaman dan hafalan, (c) rekonstruksi/penataan kembali, (d) mengingat peristiwa spesifik, (e) pembelajaran ulang, (f) tes sebagai latihan pengungkapan. Dalam proses pembelajaran, pengungkapan dapat dilakukan secara lebih efektif melalui tiga strategi, yaitu: pertama dengan memasangkan kondisi antara penyandian dengan pengungkapan, termasuk menjadikan latihan sebagai bagian pembelajaran, kedua dengan memberikan isyarat yang relevan dengan pada saat pengungkapan, dan ketiga menggunakan pengetahuan sebelumnya untuk mengkonstruksi informasi yang telah hilang pada sebelumnya.



BAB VI
PENGINDERAAN
Penginderaan (sesation) merupakan perilaku kognitif yang paling awal dan lebih berisfat instingtif/bersifat bawaan. Proses penginderaan berlangsung dalam tiga tahap: (a) tahapan fisik yang berupa adanya rangsangan yang diterima oleh alat indera, (b) tahapan fisologis, yang berupa adanya getaran dari reseptor kepada system saraf dan kelenjar, (c) tahapan eksperensial, reaksi yang disadari dan berakhir di otak. Atribusi penginderaan meliputi kualitas, intensitas dan durasi. Mata merupakan salah satu alat penginderaan yang diberikan Allah Swt. Penataan perceptual dalam penginderaan penglihatan mengikuti prisnip-prinsip: kedekatan, kesamaan, kelengkapan, kesinambungan, hubungan keseluruhan. Individu mendapat peluang untuk dapat mengenal lingkungan yang berupa suara dan diterima oleh telinga sebagai organ penerima. Lidah merupakan indera pengecap agar individu dapat mengenal berbagai rasa yang terdapat pada objek di sekitarnya. Rangsangannya berupa substansi kimia dalam larutan yang apabila menyentuh indera pengecap (lidah) kita akan merasakan berbagai rasa. Seperti halnya indera-indera lain, terdapat indera sebagai pintu untuk merasakan bau yang ada di sekitar lingkungan. Indera ini berada dalam rongga hidung. Alat indera yang kelima disebut indera peraba, dengan rangsangan berupa sentuhan yang mengenai pada kulit di seluruh tubuh. Selain kelima alat indera tersebut yang telah disebutkan, ternyata masih terdapat tiga indera lain yaitu indera keseimbangan, indera kinestetik, dan indera organik yang menjadi pelengkap indera untuk lebih memberikan pengenalan dan keselamatan dalam interaksi dengan lingkungan. Dalam proses pembelajaran, guru harus mampu mengenal prinsip-prinsip penginderaan dan mengenal kondisi dan kualitas indera para siswa. Pemahaman itu dapat membantu guru dalam mengembangkan strategi kognitif penginderaan dalam pembelajaran.


 BAB VII
PENGAMATAN
Pengamatan merupakan aktivitas kogntif dalam bentuk prose penafsiran/pemberian arti terhadapp input sensori (rangsangan indera) setelah menyentuh bagian otak yang disebut korteks. Tahapan proses pengamatan yaitu: (1) keberadaan suatu objek /peristiwa pada lingkungan, (2) energi fisik memberikan tindak terhadap reseptor indera, (3) gedtzran saraf dilanjutkan ke otak, (4) pemberian tafsiran/makna. Ada tiga strategi dalam menghadapi masalah kompleksitas rangsangan agar memeroleh pengamatan yang efektif, yaitu: (1) memfokuskan perhatian hanya pada seikit hal dalam satu waktu yang paling sesuai dengan motivasi dengan mengabaikan yang lainnya, (2) mengabaikan hal-hal yang terlalu rinci tentang suatu objek/peristiwa dan mengidentifikasi hanya pada situasi dalam garis-garis besar (3) melakukan satu “perceptual leap”atau “lompatan perceptual” yaitu memberikan makna suatu objek/peristiwa berdasarkan pada informasi yang belum lengkap/terbatas. Ada 3 macam kelainan dalam pengmatan yaitu yang disebut, ilusi, halusinasi dan osilasi. Perhatian mempunyai keterkaitan yang sangat erat dengan pengamatan. Keefektivan suatu pengamatan akan banyak ditentukan oleh tinggi rendahnya perhatian individu terhadap rangsangan. Setiap proses pengamatan terdiri atas upaya untuk menata input sensori agar dapat melakukannya dengan efektif. Bagian situasi rangsangan tergantung pada keseluruhan objek yang diamati berdasarkan prisnip; (1) latar dan figur, (2) kesamaan, (3) kedekatan, (4) hokum Pragnanz atau kecenderungan pandangan keseluruhan. Keberhasilan proses pembelajaran amat ditentukan oleh kualitas pengamatan yang dilakukan oleh siswa dan guru. Oleh karena itu, semua prinsip-prinsip pengamatan harus dikuasai oleh guru dan diterapkan dalam berbagai strategi pembelajaran. Guru harus menciptakan rangsangan pembelajaran rangsangan pembelajaran sedemikain rupa sehingga member makna bagi siswa dalam mencapai hasil yang optimal.




BAB VIII
IMAJINASI
Imajinasi merupakan perilaku kognitif yang terjadi di dalam pikiran yang berbentuk pengenalan terhadap lingkungan tanpa melalui penginderaan dan pengamatan. Pengertian imajinasi memiliki keterkaitan dengan pengertian lain yaitu image, imagery, imaginable, imaginary, imagination, imagine, dan imaginative. Imajinasi sebagai satu bentuk perilaku kognitif merupakan satu wujud ciri manusiawi sebagai makhluk berakal yang memiliki daya nalar sehingga mampu mengkonstruksi dalam alam pikiran tanpa bersentuhan dengan rangsangan fisik di dunia nyata. Ada beberapa karakteristik imajinasi yaitu subjektif, disadari, dalam kebebasan, imajiner, observasi semu, berasumsi pada sesuatu yang tidak nyata, spontanitas. Dengan imajinasi, manusia dapat memperkaya perbendaharaan kognitifnya yang dapat menunjang prose kehidupan dalam rangka interaksi dengan lingkungannya. Dalam kehidupan manusia, imajinasi mempunyai fungsi: simbolik, prediktif, deskriptif, representasi social. Imajinasi merupakan salah satu bentuk perilaku kognitif yang berupa pengenalan alam sekitar dalam alam pikiran yang disadari tanpa adanya sentuhan rangsangan. Mimpi memiliki kemiripan dengan imajinasi, karena dalam mimpi individu akan mengalami suatu konstruk yang bersifat imajinatif. Perbedaannya terletak dalam kejadiannya yaitu mimp terjadi dalam keadaan tidak sadar dalam waktu tidur, sedangkan imajinasi terjadi dalam keadaan sadar. Imajinasi merupakan aktifitas kognitif yang banyak memberikan kontribusi dalam prose pembelajaran. Oleh karena itu, guru harus memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menggunakan imajinasi sebagai strategi pembelajaran. Imajinasi dapat dikembangkan melalui mata pelajaran tertentu seperti bahasa, kesenian, menggambar, sejarah, dsb. Tetapi juga dapat menjadi penunjang pembelajaran dalam semua mata pelajaran.



 BAB IX
BERPIKIR
Berpikir tergolong sebagai perilaku kognitif dalam tingkat yang lebih tinggi atau tertinggi karena berppikir merupakan bentuk pengenalan dengan memanipulasi sejumlah konsep terutama dalam tatanan konsep abstrak. Proses berpikir yang sempurna akan didukung oleh delapan unsur sebagai berikut: (a) tindakan yang dilakukan dengan satu tujuan tertentu yang disadari, (b) dilakukan berdasrkan sudut pandang tertentu, (c) berbaasis suatu asumsi tertentu secara disadari, (d) menagarah kepada satu langkah pelaksanaan dengan persiapan menghadapi konsekuensi tertentu, (e) dilaksanakan dengan menggunakan berbagai informasi dan pengalaman, (f) dilakukan dengan menggunakan perkiraan dan timbangan yang berbasis nilai-nilaitertentu, (g) menggunakan daya nalar yang baik, sehat, dan objektif, (h) semua tindakan dilakukan dalam upaya memeroleh jawaban dari suatu pernyataan tertentu. Berpikir kritis ialah berpikir untuk (a) membandingkan dan mempertentangkan berbagai gagasan, (b) memperbaiki dan memperhalus, (c) bertanya dan verifikasi, (d) menyaring, memilih, dan mendukung gagasan, (e) membuat keputusan dan timbangan, (f) menyediakan landasan untuk suatu tindakan. Berpikir kreatif merupakan proses berpikir untuk, (a) banyak kemungkinan, (b) menunda timbangan, (c) kemungkinan baru dan tidak biasa, (d) memilih imajinasi dan intuisi, (e) mengembangkan dan memilih alternatif, (f) banyak cara dan menggunakan titik pandang yang berbeda terhadap sesuatu. Perkembangan berpikir adalah perkembangan mental. Ada dua faktor penting yang menunjang kecakapan berpikir kritis yaitu disposisi dan kecakapan. Berpikir ilmiah merupakan satu bentuk yang mendasari pola pikir yang reflektif. Terdapat tiga ciri yang melandasi proses berpikir ilmiah yaitu penjelasan ilmiah, penjelasan operasional dan berpikir kuantitatif. Pada proses pembelajaran harusnya dikembangkan beberapa proses diatas, agar kemampuan dan potensi siswa dapat muncul dan terasah dengan sendirinya.




BAB X
PEMECAHAN MASALAH
Pemecahan masalah merupakan satu strategi kognitif yang diperlukan dalam melaksanakan tugas hidup yang harus dihadapi dalam kehidupan sehari-hari dengan rentangan kesulitan mulai dari yang paling sederhana, pemecahan masalah merupakan salah satu strategi yang dapat membantu proses dan hasil pembelajaran. Ada tiga model pemecahan masalah, (a) Pandangan Thorndike: Trial and error, (b) Pandangan Dewey : tahapan secara alami, (c) Teori Gestalt: melibatkan berbagai unsur dari satu kesatuan. Lima langkah pemecahan masalah, (a) identifikasi masalah, (b) penampilan masalah, (c) memilih strategi, (d) menerapkan strategi, (e) menilai solusi. Kelima langkah tersebut dikemukakan oleh John Dewey. Penguasaan pengetahuan memiliki peran besar dan strategis dalam proses kogntif termasuk dalam pemecahan masalah. Hal ini mengandung makna bahwa pengetahuan yang telah dimiliki seseorang akan banyak membantu dalam keseleruhan proses pemecahan masalah yang ada di tiap langkahnya. Keahlian seseorang dalam bidangnya, baik berupa pengetahuan maupun keterampilan merupakan instrumen yang amat sangat bermanfaat dalam proses pemecahan masalah. Satu hal yang pentung dalam pemecahan masalah yaitu kemampuan mentransfer/memindahkan strategi dan langkah pemecahan masalah dalam satu ranah pada ranah lainnya dengan efektif dan efisien. Dalam hubungan dengan pembelajaran, siswa harus dilatih untuk dapat mentransfer pemecahan masalah dari satu ranah ke ranah lainnya, oleh karena itu, siswa harus secara sistematis telah dilatih dan nantinya dapat terlatih untuk menerapkan berbagai macam model yang diajarkan dan strategi pemecahan dari sebuah masalah tersebut dalam setiap lini, setiap aspek, setiap perilaku dan tindakannya khususnya dalam aktivitas pembelajaran yang dilakukan siswa, baik itu di ruangan (indoor) maupun di luar ruangan (outdoor).


BAB XI
KONTEKS RUANG KELAS UNTUK PERKEMBANGAN KOGNITIF
Kajian kognitif diawali dengan paradigma pemrosesan informasi dengan menggunakan metafora komputer. Dengan mengacu pada pandangan ini, maka proses kognitif dalam pembelajaran banyak dipengaruhi oleh motivasi pembelajar dan interaksi sosial. Dalam kaitannya, ruang kelas dapat dipandang sebagai satu lingkungan sosial yang memiliki potensi untuk menunjang proses kognitif dalam pembelajaran. Pandangan Vigotsky ini kemudian berkembang menjadi satu teori pembelajaran Konstruktivisme. Teori ini menjelaskan bahwa fungsi-fungsi mental yang lebih tinggi memiliki asal-usul dalam kehidupan sosial sejak anak berinteraksi dengan orang dewasa yang telah berpengalaman. 4 karakteristik utama konstruktivisme, (1) pembelajar berperan aktif dalam menata pengetahuan mereka sendiri, (2) interaksi sosial memegang peran penting dalam membangun pengetahuan, (3) peran utama pengaturan diri dan metakognisi, (4) penggunaan tugas-tugas pembelajaran yang di dalam kelas dapat digunakan diluar kelas. Tujuan pembelajaran bukan sekedar transformasi pengetahuan, tetapi mendorong untuk membangun, menimbang, menata dan mendapatkan informasi baru. Penerapan pembelajaran di dalam kelas meliputi, (1) memilih materi instruksional, (2) memilih aktifitas, (3) membuat proses yang sifatnya alami di dalam kelas, (4) penerapan kurikulum yang tetrpadu. Di dalam kelas, siswa diajarkan untuk merencanakan dan mengarahkan proses pembelajaran sedangkan guru sebagai fasilitator. Dari sudut persepektif, ada 3 pandangan, (1) exogeneous constuctivism, (2) endogeneous constuctivism, (3) dialectical constuctivism. Implementasi teori tersebut yaitu agar suasana, kondisi serta keadaan kelas menjadi lebih nyaman dan menyenangkan. Dalam membangun kelas yang reflektif, guru harus meninggalkan cara-cara kuno dan lama yang pusatnya ada pada meraka, tetapi saat ini pusatnya pada siswa.


BAB XII
KONTEKS TEKNOLOGI UNTUK PERKEMBANGAN KOGNITIF
Secara singkat teknologi dapat diartikan sebagai suatu alat atau sistem yang digunakan oleh manusia untuk memecahkan masalah dan mencapai tujuan. Teknologi informasi dan komunikasi telah berkembang amat pesat serta lebih canggih dan mampu memberikan dukungan pemecahan masalah secara lebih efektif dan efisien dalam berbagai lingkungan kehidupan termasuk dunia pendidikan dan pembelajaran. Para pendidik telah menggunakan teknologi dalam bentuk perangkat elektronik, jaringan komunikasi yang menghubungkan perangkat tersebut, dan perangkat yang terkait. Dengan tersedianya perangkat teknologi, baik perangkat keras maupun perangkat lunak siswa dapat menggunakannya dalam berbagai prose pembelajarannya. Teknologi memiliki potensi untuk memberikan sejumlah peluang pembelajaran bagi siswa dan memperluas fungsi-fungsi kognitif. Internet merupakan suatu bentuk produk teknologi komunikasi yang berkembang pesat di pengujung abad ke-20 dan diambang abad ke-21. Kehadirannya telah memberikan dampak yang cukup besar bagi dunia pendidikan khususnya dalam proses pembelajaran. Penggunaan internet dalam pembelajaran menuntut kreatifitas, kemandirian siswa dan juga guru. Teori kogntif merupakan landasan esesial dalam menimbang penggunaan teknologi,  baik secara indvidual maupunkelompok dalam proses pembelajaran. Implikasinya dalam bidang pembelajaran, para guru hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip kognitif, rasa keingintahuan siswa, memancing motivasi dari para siswa, pemilihan materi ajar yang tepat yang akan diajarkan pada para siswa, dan memperhatikan siswa yang berkebutuhan khusu (ABK) khusunya dalam menerima, merespon dan melaksanakan setiap perintah dan instruksi yang pengajar sampaiakan kepada meraka.

BAB XIII
PEMBELAJARAN MEMBACA
Dalam konteks kognitif, membaca merupakan wujud aktifitas kogntif melalui rangsangan yang berupa huruf dan tanda-tanda baca lainnya yang diterima oleh indera reseptor visual (mata) untuk kemudian dilanjutkan pada otak dan selanjutnya diberikan tafsiran dan makna. Fitur utama yang paling penting dalam bahasa oleh para ahli linguistik disebut pragmatik. Aspek bahasa lainnya adalah struktur bahasa yang terdapat 3 tingkatan struktural, (1) kata-kata, (2) sintaks, dan (3) wacana. Persyaratan linguistik yang diperlukan untuk membaca meliputi, (a) kecakapan pragmatik, (b) kecakapan derajat kata, (c) kecakapan derajat sintaktik, (d) kecakapan derajat wacana. Terdapat tiga faktor kognitif yang memengaruhi anak dalam belajar membaca, yaitu (a) pengalaman dan pengetahuan, (b) kecakapan memori baca dan memori jangka panjang, (c) kecakapan memusatkan perhatian. Proses belajar membaca akan melampaui tahapan-tahapan sebagai berikut, (a) pembaca fase pra-alfabetik, (b) pembaca fase alfabetik sebagian, (c) pembaca fase alfabetik sepenuhnya, (d) pembaca fase konsolidasi. Ada 4 hal yang penting untuk dikuasai guru dalam melaksanakan pembelajaran membaca meliputi, (a) decoding (penyandian) , (b) vocabulary (kosakata), (c) sentence and paragraph (kalimat dan paragraf), (d) text comprehension (pemahaman naskah). Ada dua kategori besar metode mengajar membaca, (1) code-emphasis method : metode yang diawali dengan pengenalan huruf, (2) meaning emphasis method : metode dengan penekanan makna. Dalam implikasi pembelajaran, guru harus memperhatikan berbagai hal terkait dengan, (a) pendekatan aktivitas bermakna, (b) perspektif yang luas dalam literasi, (c) perkembangan menuju kemampuan mengungkapkan secara otomatis, (d) domain: ranah pengetahuan anak, (e) pengetahuan metalingustik anak, dan (f) kefasihan membaca dari anak.


                                                                         BAB XIV
STRATEGI MEMBACA
Dengan kemampuan membaca yang pada awalnya berupa kemampuan membunyikan dan memaknai huruf dan tanda-tanda bacaan lainnya, kemudian berkembang menjadi alat utama dalam perkembangan kognitif. Kemampuan ini disebut sebagai membaca fungsional yang berperan sebagai jendela untuk mengenal lingkungan yang menjadi sumber kehidupan. Dengan demikian, membaca merupakan alat kognitif utama dalam proses pembelajaran. Ada 3 macam kelompok membaca pemahaman, (1) data driven, (2) conceptually driven, (3) interactive processing. Model konstruksi intergrasi menggambarkan bagaimana teks direpresentasikan dan diintegrasikan dengan pengetahuan pembaca dengan fokus pada pemrosesan wacana. Model konstruksionis lebih memfokuskan pada kesimpulan yang dibangun dan berkaitan pada kesimpulan yang dibangun dan berkaitan dengan representasi mental yang dikembangkan pada saat pembaca memahami teks. Terdapat tiga asumsi, (a) asumsi tujuan membaca, (b) asumsi koherensi, dan (c) asumsi penjelasan. Membaca merupakan strategi kognitif dalam membangun perbendaharaan kata dalam memori dan amat diperlukan dalam pembelajaran. Terdapat empat kerangka kerja dalam pengajaran perbendaharaan kata. (1) guru harus memiliki pengalaman dan kekayaan bahasa, (2) guru harus mengajarkan kata-kata secara langsung dan menggunakannya, (3) siswa harus diajar untuk mengembangkan strategi belajar kata-kata, (4) siswa harus dibantu untuk mengembangkan kesadaran kata-kata dengan mencatat, menyenanginya dan menggunakannya dengan baik. Membaca merupakan aktifitas kognitif dalam upaya menambah pengetahuan yang memberi makna bagi kehidupan manusia. Strategi membaca, (a) advance organizers, (b) sinyal teks, (c) pertanyaan yang disisipkan. Empat strategi untuk membangun pengetahuan, (a) pengajaran umpan balik, (b) hubungan pertanyaan jawaban, (c) pengajaran transaksional, (d) pengajaran membaca berorientasi konsep. Membaca sarana untuk pembelajaran. 



                                                                             BAB XV
STRATEGI MENULIS
Menulis merupakan kecakapan kognitif, karena mendukung proses mengungkapkan gagasan yang bersumber dari perkembangan informasi dan perbendaharaan pengetahuan yang ada dalam memori, baik jangka panjang maupun memori kerja. Model teoritis mengenai pendekatan kognitif tentang menulis, yang banyak dijadikan landasan dalam membahas mengenai menulis ialah model yang dikembangkan oleh Flowers dan hayes. Model ini memberikan kerangka rujukan mengenai unsur-unsur dalam proses dari berbagai bentuk dan macam tulisan. Tiga komponen utama dalam menulis, (1) memori jangka panjang, (2) memori kerja, (3) lingkungan tugas. Empat dimensi kognitif yaitu, pemrosesan informasi, pembangunan gagasan, perencanaan, dan dalam penataan. Guru harus menjadi pembeda individual siswa, dan memberikan bimbingan sesuai dengan keunikan masing-masing sehingga tiap siswa memeroleh kemajuan keterampilan menulis yang sesuai dengan kondisi dirinya masing-masing. Strategi yang dapat dibangun oleh guru dalam upaya membantu mengembangkan kebiasaan menulis, (a) membangun komunikasi kiterasi, (b) interaksi dalam komunitas, (c) mengembangkan kemampuan mengatur diri sendiri. Implikasi pembelajaran menulis terkait dengan strategi pembelajaran secara umum, yaitu mengupayakn hal-hal yang menyangkut; siswa sering menulis, membangun suasana yang mendukung, menekankan strategi, menggunakan teknologi, menggunakan tata bahasa yang benar. Dalam membimbing siswa untuk menulis, seharusnya guru mengembangkan kebiasaan menulis sehingga akan menjadi teladan. Aktivitas menulis bagi guru mempunyai nilai ta,bah yang meliputi nilai-nilai: personal, professional, dan material. Oleh karena itu, guru harus menguasai dan diterapkan secara langsung melalui berbagai strategi seperti MGMP, komunitas guru penulis, dsb. 
















Komentar

Postingan populer dari blog ini

answer question material of nautical /tanya jawab soal kelautan

Dampak Positif dan Negatif lockdown dalam Dunia Pendidikan

MEWUJUDKAN PEMBELAJARAN MENDALAM DENGAN AKSI NYATA MELALUI BEST PRACTICE TERHADAP MURID KELAS X